<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/platform.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar/2816500101807757279?origin\x3dhttp://hengzit.blogspot.com', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>
ZITA OrdinaryGirl @blogspot.com ♥
Senin, 28 November 2011


1.Apa Ibu hamil boleh mengkonsumsi buah nanas?



Sebenarnya tidak ada pantangan memakan buah apapun bagi ibu hamil,asal jumlah nya bisa di toleransi dan tidak berlebihan dalam mengkonsumsinya,seperti banyak isu beredar bahwa buah nanas dapat digunakan untuk menggugurkan/menyebabkan keguguran,memang benar buah nanas bisa menyebabkan keguguran apabila dikonsumsi secara “berlebihan”/melampaui batas toleransi,terutama pada ibu hamil pada trimester 1 yang notabene mengalami hiper emesis dan nyidam makan makanan yang berasa asam seperti buah nanas itu,kenapa bila mengkonsumsi nanas secara berlebihan dapat menyebabkan keguguran?karena Nanas muda berpotensi sebagai abortivum atau sejenis obat yang dapat menggugurkan kandungan. Makanya, nanas sering digunakan untuk mengatasi haid yang terlambat. Wanita hamil disarankan untuk tidak mengonsumsi nanas muda.tetapi apabila buah nanas ini dikonsumsi oleh ibu hamil secara wajar dan tidak berlebihan maka tidak akan berpengaruh bagi si janin.Berikut ini adalah sedikit ulasan tentang nanas:
Nanas mempunyai keunggulan yang patut diacungi jempol. Nanas dapat meluruhkan timbunan lemak yang berlebihan di dalam tubuh. Nanas mengandung vitamin A, vitamin C, kalsium, fosfor, magnesium, besi, natrium, kalium, dekstrosa. kandungan sukrosa dan enzim bromelain pada nanas dapat menghindari penyakit serius, seperti tumor, aterosklerosis (penyempitan pembuluh darah) dan beri-beri.
Nanas memang berpotensi menjadi tanaman obat. Menurut Dr. Setiawan Dalimartha dalam bukunya yang berjudul Atlas Tumbuhan Obat Indonesia, enzim bromelain dalam buah nanas berkhasiat sebagai anti radang, membantu melunakkan makanan di lambung, mengganggu pertumbuhan sel kanker, dan mencegah terjadinya penggumpalan darah (blood coagulation).
Kandungan serat nanas yang cukup tinggi, cocok mengobati sembelit. Makan buah nanas, sama artinya mengonsumsi obat pencahar (konstipasi). Efeknya, buang air besar yang tadinya tersendat, menjadi lancar kembali. Nanas juga cukup baik dikonsumsi oleh orang-orang yang sedang sakit. Dalam nanas terkandung zat-zat yang dapat meningkatkan penyerapan obat ke dalam tubuh.
Buah dan daun nanas bermanfaat pula membersihkan jaringan kulit yang mati (skin debridement). Nanas juga dapat Menurunkan berat badan, Sembelit, Radang tenggorokan, Kembung atau rasa penuh di perut karena pencernaan terganggu, Cacingan, Ketombe, Radang kulit (Dermatitis), Luka bakar, gatal, bisul, Keseleo atau Memar,
Buah yang satu ini mempunyai efek samping yaitu Menggugurkan kandungan. Nanas muda berpotensi sebagai abortivum atau sejenis obat yang dapat menggugurkan kandungan. Makanya, nanas sering digunakan untuk mengatasi haid yang terlambat. Wanita hamil disarankan untuk tidak mengonsumsi nanas muda secara belebihan. Memicu rematik Di dalam saluran cerna, buah nanas terfermentasi menjadi alkohol. Ini isa memicu kekambuhan rematik gout. Ini bisa memicu kekambuhan rematik gout. Penderita rematik dan radang sendi dianjurkan untuk membatasi konsumsi nanas. Meningkatkan gula darah Buah nanas masak mengandung kadar gula yang cukup tinggi. Penderita diabetes sebaiknya tidak mengonsumsi nanas secara berlebihan. Menimbulkan rasa gatal Terkadang sehabis makan nanas segar, mulut dan lidah terasa gatal. Untuk menghindarinya sebelum dimakan, rendamlah potongan buah nanas dengan air garam. [vense]
Minggu, 27 Februari 2011 04:48 Redaksi Seruu.Com Keluarga - Kesehatan & Kecantikan

2.Apakah ibu hamil boleh mengkonsumsi Buah Durian?
Seperti halnya buah nanas,pengkonsumsian buah durian pada ibu hamil itu tidak masalah asal “tidak berlebihan”
Menurut dr. Fitriadi Kusuma, SpOG dari Rumah Sakit Pondok Indah, Jakarta sampai saat ini memang belum ada penelitian resmi yang menyatakan bahwa buah durian tidak baik untuk Bunda yang sedang hamil. Meski begitu, ia mencoba menganalisisnya berdasarkan kandungan dalam buah musiman ini.

Buah durian mengandung banyak gas, glukosa, kolesterol dan juga sedikit alkohol. Setelah mengonsumsi durian, gas dalam perut Bunda bisa saja menimbulkan kontraksi. Dampak buruk lainnya Bunda bisa terkena diabetes karena glukosa yang ada dalam durian. sedangkan kolesterol dan alkohol menimbulkan efek buruk pada jantung.

Tapi Bunda boleh merasa lega karena menurut dr. Fitriadi akibat mengonsumsi durian tidak sampai menimbulkan hal negatif pada janin.

Ia menjelaskan sebenarnya tidak ada larangan makanan apa pun untuk wanita yang sedang hamil. Semua makanan boleh dikonsumsi. Hanya saja yang perlu diperhatikan adalah seberapa besar porsinya. “Untuk durian satu atau dua biji saja sudah cukup, jangan lebih!” paparnya. Hal ini untuk menghindari efek yang ditimbulkan dari kandungan durian (diabetes dan penyakit jantung).

Pada pasien dengan kehamilan trimester pertama sebaiknya menahan diri dulu untuk tidak mencicipi buah ini. Karena pada usia kehamilan ini kontraksi yang timbul kemungkinannya lebih besar.

TIPS :
• minum banyak air putih setelah mengonsumsi durian membantu menetralisir kembali tubuh Bunda
• http://t032x.blogspot.com/2010/06/apa-bener-nanas-bisa-menggugurkan.html
3.Bagaimana menstruasi pada bayi perempuan yang baru lahir?normalkah?
Ternyata berkisar 20-25 % bayi baru lahir perempuan mengeluarkan noda darah pada vaginanya pada minggu pertama kelahiran,mirip darah menstruasi.Hal ini normal karena merupakan pengaruh dari hormon yang dibawa oleh si ibu karena selama kehamilan,janin mendapatkan pasokan oksigen dan makanan dari darah ibu yang mengalir di tubuh janin dan hormon adalah salah satunya komponen yang juga ikut beredar dari sirkulasi darah ibu ke sirkulasi darah janin.Oleh karena itu janin terpapar oleh hormon estrogen yang dibawa oleh ibu dan terbawa sampai janin lahir.Organ organ reproduksi bayi perempuan sudah ada sehingga kemudian hormon itulah yang menyebabkan bayi mengeluarkan cairan lendir merah muda mirip bercak darah haid/menstruasi.Haid pada bayi permpuan ini normalnya terjadi selama 4 hari.Dan jika sudah berhenti,darah ini tidak akan muncula lagi.Jika lebih dari 4 hari ,perlu dilakukan pemeriksaan lanjut karena dikhawatirkan terdapat kelainan di susunan saraf pusat yang mengatur kerja hormonal.Namun kasus seperti ini sanagt jarang terjadi.
Berikut ini merupakan tips bagaimana menghadapi’haid’pada bayi perempuan:
Jangan panik&jaga kebersihan,karena ini merupakan gejala normal
Ibu jangan khawatir bila dihadapkan dengan kondisi seperti ini,perhatikan tingkat higienitasnya.Pastikan ibu benar benar bersih membersihkan kemaluannya agar tidak menjadi tempat berkembangnya kuman dan jamur.
Selain ‘haid’tadi,tingginya paparan hormon estrogen dari ibu dapat juga mengakibatkan pada bayi laki laki misalnya mengalami pembesaran kantung buah zakar,atau bayi laki laki dan permpuan payudaranya membesar tapi kemudian menghilang dengan sendirinya.
Sumber: http://lifestyle.okezone.com/read/2011/01/21/195/416604/baru-lahir-kok-sudah-haid


4.Apakah Ibu hamil boleh minum Air Es?
Ada mitos orang hamil tidak boleh minum air dingin karena bisa bikin anak yang dikandungnya besar. Apa benar ibu hamil tidak boleh minum air dingin? Berikut penjelasannya.
Saat hamil terkadang perempuan ingin minum air dingin, apalagi jika cuaca sedang terik. Tapi banyak juga yang takut minum air dingin karena khawatir sulit saat melahirkan nanti.
Padahal tidak demikian. Bayi yang besar saat dilahirkan bukan karena kebanyakan minum air dingin tapi lebih pada si ibu yang mempunyai turunan penyakit kencing manis (diabetes).
Ibu hamil boleh saja mengonsumsi air dingin, tapi porsinya jangan terlalu banyak karena untuk ibu hamil lebih baik mengonsumsi air putih biasa dengan jumlah yang cukup agar tidak terjadi dehidrasi. Saat manusia mengonsumsi air dingin, maka tubuh harus membakar kalori atau lemak untuk meningkatkan temperatur dari minuman dingin tersebut.
Jadi kalau ibu hamil sering minum air dingin tubuhnya akan bekerja keras dan mengurangi kalori di tubuhnya karena air dingin yang masuk ke dalam tubuh harus disesuaikan dengan suhu tubuh itu sendiri. Tapi bukan berarti air dingin akan membuat si bayi besar. Karena air dingin yang dikonsumsi ibu hamil tetap akan dikeluarkan kembali melalui urine.
Satu hal yang pasti jangan mengonsumsi air dingin setelah makan, karena bisa memperlambat pencernaan dan menyerap makanan padat lebih lama. Untuk itu, sebaiknya ibu hamil minum air hangat saja setelah makan.
Seperti dikutip dari Childbirth, Jumat (13/11/2009) bayi yang lahir dari ibu yang menderita diabetes sangat berisiko lahir dengan tubuh yang besar sehingga menyulitkan ibu dalam melahirkannya. Ini terjadi karena saat kadar gula dalam darah ibu bertambah, maka secara otomatis bayi pun akan mendapatkan tambahan kadar gula. Kelebihan gula ini akan membuat bayi lahir dengan bobot yang besar.
Karena bayi mendapatkan asupan gula tambahan, maka secara otomatis pankreas bayi juga akan membuat insulin tambahan. Sehingga saat lahir nanti sulit bagi bayi untuk menghentikan insulin yang berlebihan tersebut.
Penting bagi ibu hamil untuk selalu mengontrol kadar gula darahnya selama hamil dan setelah bayi dilahirkan juga harus dipastikan kadar gula darah bayi stabil tidak terlalu rendah atau tinggi.
Jika memang memiliki riwayat atau turunan penyakit diabetes, maka sebaiknya mengatur pola makan agar tidak meningkatkan kadar gula dalam darah dan menghindari bayi lahir dengan bobot tubuh yang besar.
Sumber: Detik Health
http://mommygadget.com/2009/11/20/bolehkah-ibu-hamil-minum-air-dingin/
5.Bagaimana sunat pada bayi perempuan?
Fakta Sunat Pada Bayi Perempuan

Khitan pada bayi perempuan yang dipotong adalah sedikit kulit pada klitoris dan tidak boleh berlebihan dalam memotongnya, Memang ada yang mengatakan bahwa khitan perempuan tidaklah dianjurkan dari aspek medis dikarenakan ia akan menyulitkan saat buang air kecil, tidak memberikan kepuasan pada pasangannya saat berhubungan atau menyulitkan saat melahirkan. Bila terjadi kontroversi seputar sirkumsisi pada anak/bayi laki-laki, nampaknya semua mudah sepakat tentang sunat pada bayi perempuan. Pada beberapa komunitas, dilakukan praktek sunat perempuan yang diserupakan dengan sirkumsisi pada laki-laki. Karena klitoris merupakan "kembaran" penis, maka kulit di sekitar klitoris juga harus dibuang, seperti membuang preputium. Bahkan ada yang sampai memotong klitorisnya itu sendiri.

WHO mencatat ada 4 tipe female genital mutilation. Tindakan "memotong kulit di sekitar klitoris" (yang sejenis dengan preputium pada penis) merupakan tipe paling ringan. Sulit dibayangkan bagaimana kondisi dari tipe-tipe yang lebih berat.

Tindakan ini tidak dikenal sama sekali dalam dunia medis. Pemotongan atau pengirisan kulit sekitar klitoris apalagi klitorisnya sangat merugikan. Tidak ada indikasi medis untuk mendasarinya.
Ada tradisi agama tertentu yang mengharuskan bayi perempuan disunat. Sebenarnya boleh tidak sih, sunat pada bayi perempuan? Jawabannya adalahTIDAK!

Larangan sunat terhadap bayi perempuan tentunya ada alasannya. Kalangan medis pun sudah tidak mengijinkan praktik sunat bayi perempuan. Ini faktanya:

World Health Organization (WHO), Humanitarian National, dan The International Federation of Gynecology and Obstetric, secara tegas menyatakan sunat pada bayi perempuan sebagai bentuk tindakan mutilasi yang dilarang (female genital mutilation). Sebab, tidak ada manfaatnya secara medis dan kesehatan.

The American College of Obstetrician and Gynecologist dan The College of Physicians and Surgeons of Ontario, Canada, mengeluarkan pernyataan resmi melarang setiap anggotanya melakukan sunat pada bayi perempuan, bahkan bila orang tua bayi yang meminta.

The American Academy of Pediatrics, menganjurkan anggotanya untuk memberi penjelasan dan penyuluhan kepada orang tua yang meminta dilakukan sunat pada bayi perempuan mereka. Sebab, sunat pada bayi perempuan tidak bermanfaat dan dianggap sebagai bentuk kekerasan.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia saat ini juga sudah mengeluarkan surat edaran yang melarang profesi kesehatan untuk melakukan sunat pada bayi perempuan (HK. 007.13.1047a, 20 April 2006). Dan dalam profesi kedokteran hingga tingkat spesialis, tidak ada materi pelajaran sunat pada bayi atau anak perempuan.

Jangan sakiti bayi perempuan Anda jika memang itu tidak diperlukan. Kasihan bukan, kalau ia harus menderita karena sesuatu yang tidak beralasan?

6.Bagaimana sunat/khitan pada anak laki laki?
1. Sunat (pemotongan kulup Penis) adalah Sunnah. karena itu yang diajarkan oleh nabi Muhammad. dan juga Nabi Ibrahim As sebenarnya telah disunat walapun telah berusia dewasa.
oleh karena itu perlunya kita mengikuti. Tujuan dari dikhitannya laki-laki adalah untuk mensucikannya dari najis yang bertumpuk di ujung kemaluan sedangkan tujuan dari dikhitannya wanita adalah menyeimbangkan syahwatnya karena apabila—tidak dikhitan—dan ketika melihat kaum laki-laki maka gejolak syahwatnya akan sangat kuat.
dan hal itu terbukti :
a. orang yang disunat memiliki resiko terkecil terhadap penyakit kelamin. karena kotoran (bakteri)biasanya bersarang didaerah kulup itu. apalagi kalau setelah BAK masih ada sisa sisa kotoran.
b. itulah yang membedakan kita dengan orang-orang kafir (karena nonmuslim lebih banyak tidak disunat)
c. kebersihan pada penis benar benar terjaga. selain terhindar dari bau.
d. urat syaraf/urat aliran darah pada penis akan lebih "leluasa" dalam mengalirkan darah, berbeda dengan yang tidak disunat. oleh karena itu jarang terkena impotensi.
e. sunat bukan hanya untuk anak kecil. orang dewasa pun dapat melakukan sunat karena memang sunat tidak terbatas umur.
f. yang terakhir, zaman sekarang sunat sudah tidak menggunakan metode klasik lagi, tapi sekarang banyak alat canggih yang bisa memotong kulup tanpa rasa sakit dan waktu kering yang lama,seperti dengan teknologi laser.
http://www.klikdokter.com/tanyadokter/sunat
Rabu, 23 November 2011


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Setelah ibu melahirkan, maka ibu memasuki masa nifas atau yang lazim disebut puerpurium. Masa nifas (puerpurium) ada waktu yang dimulai setelah placenta lahir dan berakhir kira-kira 6 minggu. Akan tetapi seluruh alat kandungan kembali seperti semula (sebelum hamil) dalam waktu kurang lebih 3 bulan.
Dimulai dengan kehamilan, persalinan dan dilanjutkan dengan masa nifas merupakan masa yang kritis bagi ibu dan bayinya. Kemungkinan timbul masalah dan penyulit selama masa nifas. Apabila tidak segera ditangani secara efektif akan membahayakan kesehatan, bahkan bisa menyebabkan kematian dan 50% kematian masa nifas terjadi dalam 24 jam pertama.
Untuk itu pemberian asuhan kebidanan kepada ibu dalam masa nifas sangat perlu dilakukan yang bertujuan untuk menjaga kesehatan ibu dan bayi, melaksanakan deteksi dini adanya komplikasi dan infeksi, memberikan pendidikan pada ibu serta memberikan pelayanan kesehatan pada ibu dan bayi.
Selama masa nifas ibu akan mengalami berbagai perubahan. Perubahan yang terjadi pada masa nifas tidak hanya terjadi secara fisik saja, melainkan juga psikologis atau kejiwaan. Sehingga, pemberian edukasi tentang informasi yang berkaitan dengan masa nifas sangat perlu diberikan pada ibu dalam masa nifas. Setiap masa nifas dapat berkembang menjadi masalah atau komplikasi.
Oleh karena itu, pelayanan/asuhan merupakan cara penting untuk memonitor dan mendukung kesehatan ibu nifas normal dan mengetahui secara dini bila ada penyimpangan yang ditemukan dengan tujuan agar ibu dapat melalui masa nifasnya dengan selamat dan bayinyapun sehat.


1.2 Tujuan
1.2.1 Tujuan Umum
Agar mahasiswa mampu memahami tentang perubahan-perubahan yang terjadi pada masa tumbuh kembang nifas, mahasiswa mampu melaksanakan asuhan kebidanan pada klien dalam masa nifas.

1.2.2 Tujuan Khusus
Mahasiswa mampu:
1. Melaksanakan pengkajian pada bufas
2. Menginterpretasi data
3. Mengantisipasi masalah potensial
4. Mengidentifikasi kebutuhan segera
5. Merenca tindakan dan rasionalisasi
6. Melakukan rencana tindakan
7. Melaksanakan evaluasi

1.3 Metode Penulisan
Studi pustaka, praktek langsung, bimbingan dan konsultasi.

1.4 Sistematika Penulisan
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
1.2 Tujuan
1.2.1 Tujuan Umum
1.2.2 Tujuan Khusus
1.3 Metode Penulisan
1.4 Sistematika Penulisan
BAB II LANDASAN TEORI
2.1 Pengertian
2.2 Perubahan fisiologis pada ibu nifas
2.3 Perubahan sistem tubuh lainnya
2.4 Perubahan psikologi ibu nifas
2.5 Program dan kebijakan teknis
2.6 Tanda-tanda bahaya masa nifas
2.7 Kebutuhan dasar ibu masa nifas
2.8 Pengawasan akhir kala masa nifas
2.9 Konsep Asuhan Kebidanan
BAB III TINJAUAN KASUS
3.1 Pengkajian
3.2 Analisa Masalah/Diagnosa
3.3 Diagnosa Masalah Potensial
3.4 Identifikasi Kebutuhan Segera
3.5 Intervensi
3.6 Implementasi
3.7 Evaluasi
BAB IV KESIMPULAN
BAB V DAFTAR PUSTAKA
















BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 Pengertian
2.1.1 Masa nifas adalah waktu yang dimulai setelah kelahiran placenta dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil.
(Prawirohardjo, 2002:122)
2.1.2 Masa nifas (puerperium) adalah masa sesudahnya persalinan terhitung dari saat selesai persalinan sampai pulihnya kembali alat-alat kandungan.
(Depkes RI, 2004:176)
2.1.3 Masa nifas adalah masa pulih kembali, mulai dari persalinan selesai sampai alat-alat kandungan kembali seperti sebelum hamil, lama masa nifas yaitu 6-8 minggu.
(Muchtar, 1998:115)
2.1.4 Masa nifas adalah masa setelah partus selesai dan berakhir setelah kira-kira 6 minggu.
(Kapita Selekta Jilid I, 2001:316)

2.2 Perubahan Fisiologis Pada Ibu Nifas
2.2.1 Involusi Rahim
Setelah placenta lahir, uterus merupakan alat yang keras karena kontraksi dan relaksi otot-otot. Fundus uteri 3 jari bawah pusat, selama 2 hari berikutnya besarnya tidak seberapa berkurang, tetapi sesudah 2 hari uterus mengecil dengan cepat sehingga pada hari ke –10 tidak teraba lagi dari luar. Involusi terjadi karena masing-masing sel menjadi lebih kecil, karena cytoplasmanya yang berlebihan dibuang. Involusi disebabkan oleh proses autolisis, zat protein dinding rahim dipecah, diabsorbsi dan dibuang dengan air kencing.
2.2.2 Involusi Tempat Placenta
Setelah persalinan tempat placenta merupakan tempat dengan permukaan besar, tidak rata dan kira- kira sebesar telapak tangan. Pada permulaan nifas placenta mengandung pembuluh darah besar yang tersumbat oleh trombus. Biasanya luka yang demikian sembuh dengan menjadi parut. Tetapi luka bekas placenta tidak meninggalkan parut. Hal ini disebabkan karena luka dilepaskan dari dasarnya dengan pertumbuhan endometrium baru ditambah permukaan luka.

2.2.3 Perubahan Pembuluh Darah
Dalam kehamilan, uterus banyak pembuluh-pembuluh darah yang besar, tetapi karena setelah persalinan tidak diperlukan lagi peredaran darah yang banyak maka arteri harus mengecil lagi dalam masa nifas.

2.2.4 Perubahan Pada Serviks Dan Vagina
Beberapa hari setelah persalinan, ostium eksternum dapat dilalui oleh 2 jari. Pinggir-pinggirnya tidak rata tetapi retak-retak karena robekan dalam persalinan. Pada serviks terbentuk sel-sel otot baru hipersalifasi ini dan karena terakhir retraksi dari servik robekan serviks menjadi sembuh. Walaupun begitu setelah involusi selesai ostium eksternum tidak serupa dengan keadaannya sebelum hamil. Pada umumnya ostium eksternum lebih besar dan tetap ada retak-retak dan robekan-robekan pada pinggirnya, terutama pada pinggir sampingnya. Vagina yang sangat regang waktu persalinan lambat laun mencapai ukuran-ukurannya yang normal pada minggu ke-3 pada masa nifas rugae mulai tampak kembali.

2.2.5 Dinding Perut dan Peritonium
Setelah persalinan dinding perut longgar karena diregang begitu lama. Tetapi biasanya pulih kembali dalam 6 minggu.



2.2.6 Laktasi
Masing-masing buah dada terdiri dari 15-24 lobi yang terletak terpisah satu sama yang lain oleh jaringan lemas. Tiap lobus terdiri dari lobuli yang terdiri pula dari acini. Acini ini menghasilkan air susu. Tiap lobus mempunyai saluran halus untuk mengalirkan air susu. Saluran ini disebut duktus laktiferus yang memusat menuju puting susu dimana masing-masing bermuara. Keadaan buah dada pada 2 hari pertama nifas sama dengan keadaan dalam kehamilan. Pada waktu itu buah dada belum mengandung susu melainkan colostrum yang dikeluarkan dengan memijat areola mamae.

2.2.7 Lochea
Adalah cairan/sekret yang berasal dari cavum uteri dan vagina dalam masa nifas.
2.2.7.1 Lochea Rubra
Berisi darah segar dan sisa-sisa selaput ketuban, sel-sel desidua, vernik kaseosa, lanugo dan mekanium selama 2 hari pasca persalinan.
2.2.7.2 Lochea Sanguinolenta
Berisi darah berwarna merah kuning dan lendir. Hari ke 3-7 pasca persalinan.
2.2.7.3 Lochea Serosa
Berwarna kuning, cairan tidak berdarah lagi pada hari ke 7-14 pasca persalinan.
2.2.7.4 Lochea Alba
Cairan putih selama 2 minggu.

2.3 Perubahan Sistem Tubuh lainnya
2.3.1 Suhu Badan
Suhu badan pasca persalinan dapat naik lebih dari 0,5°C dari keadaan normal. Tetapi tidak lebih dari 39°C sesudah 12 jam pertama setelah melahirkan. Umumnya suhu badan kembali normal. Bila lebih dari 38°C kemungkinan ada infeksi.

2.3.2 Nadi
Nadi umumnya 60-80 x/menit dan segera setelah partus dapat terjadi takikardi. Bila terdapat takikardi dan badan tidak panas mungkin ada perdarahan berlebihan/penyakit jantung. Pada nifas umumnya denyut nadi lebih labil dibanding suhu badan.

2.3.3 Sistem Perkemihan dan Buang Air Besar
Miksi harus secepatnya dapat dilakukan sendiri. Bila kandung kemih dapat dilakukan kateterisasi. Untuk mengistirahatkan otot-otot kandung kencing sehingga kelancaran kedua sistem tersebut berlangsung dengan baik BAB harus dilakukan setelah 2 hari PP.

2.3.4 Sistem Muskulosceletal
2.3.4.1 Terjadi penurunan tonus otot secara bertahap
2.3.4.2 Kelahiran bayi sering menimbulkan trauma musculo pubococygeal dan sfingter mayor pubis.
2.3.4.3 Pada 24 jam PP terjadi nyeri, lemah pada kaki  ketegangan otot dan penggunaan tenaga.

2.3.5 Sistem Kardiovaskuler
2.3.5.1 Secara bertahap akan kembali normal  cardiac output 2-9 hari akan kembali seperti sebelum hamil.
2.3.5.2 Setelah satu minggu post partum volume darah akan kembali stabil.

2.4 Perubahan Psikologi Masa Nifas
2.4.1 Peran sebagai Ibu
2.4.1.1 Teori Reva Rubin
Penekanan teori rubin  pencapaian peran ibu. Seorang wanita membutuhkan proses belajar melalui serangkaian aktivitas berupa latihan-latihan. Pencapaian peran ibu dimulai selama hamil sampai 6 bulan setelah persalinan.
2.4.1.2 Teori Ramonat T Marcer
Penekanan  stres ante partum dan pencapaian peran ibu. Menjadi seorang ibu berarti memperoleh identitas baru yang membutuhkan pemikiran dan pengenalan yang lengkap tentang diri sendiri. Step dalam pelaksanaan peran ibu.
a. Antisipatori
Yaitu masa sebelum menjadi ibu, penyesuaian sosial dan psikologi terhadap peran barunya dengan mempelajari apa yang dibutuhkan untuk menjadi seorang ibu.
b. Formal
Yaitu dimulai dengan peran sesungguhnya seorang ibu.
c. Informal
Yaitu ibu mampu menemukan jalan yang baik untuk melaksanakan peran seorang ibu.
d. Personal
Yaitu wanita yang telah mahir dalam melaksanakan perannya.
2.4.1.3 Teori Jean Ball
Penekanan  agar ibu mampu melaksanakan tugasnya sebagai ibu baik fisik dan psikologis. Faktor-faktor yang mempengaruhi keseimbangan teori ini terbentuk 3 element :
1. Pelayanan maternitas
2. Pandangan masyarakat terhadap keluarga
3. Support terhadap kepribadian wanita
2.4.1.4 Bainding dan A. Hachment
1. Menurut Nelson (1986)
- Banding = dimulainya interaksi emosi sensorik, fisik antara orangtua dan bayi segera setelah lahir.
- Attachment = ikatan efektif yang terjadi diantara individu (pencurahan perhatian, hubungan emosi dan fisik yang akrab).
2. Benner dan Brown (1989)
- Bounding = terjadi hubungan orangtua dan bayi sejak awal kehidupan.
- Attachment = pencurahan kasih sayang diantara individu.

2.5 Program dan Kebijakan Teknis
Paling sedikit 4x kunjungan masa nifas dilakukan untuk menilai status ibu dan bayi dan untuk mencegah, mendeteksi dan menangani masalah-masalah yang terjadi
Kunjungan Waktu Tujuan
1 6-8 jam setelah persalinan - Mencegah perdarahan masa nifas karena atonia uteri.
- Mendeteksi dan merawat penyebab lain perdarahan, rujuk bila perdarahan berlanjut.
- Memberikan konseling pada ibu/salah satu anggota keluarga, bagaimana mencegah perdarahan masa nifas karena atonia uteri.
- Pemberian ASI awal
- Melakukan hubungan antara ibu dan BBL
- Menjaga bayi tetap sehat dengan cara mencegah hipotermi
2 6 hari setelah persalinan - Memastikan involusi uterus berjalan normal, uterus berkontraksi, fundus dibawah umbilikus, tidak ada perdarahan abnormal, tidak ada bau
- Menilai adanya tanda-tanda demam, infeksi, perdarahan abornomal, tidak ada bau
- Memastikan ibu mendapatkan cukup makanan, cairan dan istirahat
- Memastikan ibu menyusui dengan baik dan tidak memperlihatkan tanda-tanda penyulit.
- Memberikan konseling pada ibu mengenai asuhan pada bayi, perawatan tali pusat, menjaga bayi tetap hangat, dan merawat bayi sehari-hari
3 2 minggu setelah persalinan - Sama seperti kunjungan ke-2
- Menanyakan pada ibu tentang penyulit-penyulit yang ibu/bayi alami
4 6 minggu setelah persalinan - Memberikan konseling untuk program KB secara dini

2.6 Tanda-tanda Bahaya Masa Nifas
2.6.1 Perdarahan Pervaginam Banyak dan Menggumpal
2.6.1.1 Kurang 24 jam PP, penyebabnya:
1. Sisa uri
2. Kontraksi lemah/inertia uteri
3. Perdarahan karena luka jalan lahir
2.6.1.2 Lebih dari 24 jam PP penyebabnya adalah sisa uri

2.6.2 Lochia Berbau
Kemungkinan penyebab: koprostatis (lochea yang tertimbun pada vagina)

2.6.3 Payudara yang berubah menjadi merah, panas dan terasa nyeri
2.6.3.1 Bendungan Payudara
- Suhu tidak lebih dari 38,5°C
- Terjadi dalam minggu-minggu pertama PP
2.6.3.2 Mastitis
- Suhu lebih dari 38,5°C
- Terjadi pada minggu ke-2 PP
- Bengkak, keras, kemerahan, nyeri tekan

2.6.4 Kaki terasa sakit, merah dan bengkak
Kemungkinan penyebab tromboplebitis femuralis

2.6.5 Demam
Kemungkinan penyebab:
- Febris puerpuralis
- Mastilitis
- Flegmasia Alba Dolens


2.6.6 Rasa Sakit Waktu BAK, Kemungkinan Penyebab Sistitis
Gejala : - kencing sakit
- daerah atas sympisis nyeri tekan

2.6.7 Rasa sangat sedih atau tidak mampu mengasuh sendiri bayinya.
2.6.8 Kehilangan nafsu makan dalam waktu yang lama
2.6.9 Sakit kepala yang terus menerus, nyeri epigastitik

2.7 Kebutuhan dasar ibu nifas
2.7.1 Istirahat
2.7.1.1 Menganjurkan ibu untuk beristirahat cukup untuk mencegah kelelahan yang berlebihan.
2.7.1.2 Sarankan ibu untuk kembali ke kegiatan rumah tangga biasa perlahan-lahan.
2.7.1.3 Menyarankan ibu untuk tidur siang.
2.7.1.4 Kurang istirahat akan mempengaruhi ibu dalam beberapa hal:
1. Mengurangi jumlah ASI yang diproduksi
2. Memperlambat proses involusi uterus dan memperbanyak perdarahan
3. Menyebabkan depresi dan ketidakmampuan untuk merawat bayi dan dirinya sendiri.

2.7.2 Personal Higiene
2.7.2.1 Menganjurkan ibu menjaga kebersihan seluruh tubuh
2.7.2.2 Mengajarkan ibu bagaimana membersihkan daerah kelamin dengan sabun dan air
2.7.2.3 Menyarankan ibu untuk ganti pembalut minimal 2 kali sehari
2.7.2.4 Menyarankan ibu untuk mencuci tangan dengan sabun dan air sebelum dan sesudah membersihkan daerah genetalia.
2.7.2.5 Nasehati ibu untuk membersihkan dari setiap kali BAB atau BAK.
2.7.2.6 Jika ibu mempunyai luka episiotomi/laserasi sarankan pada ibu untuk menghindari menyentuh daerah luka.
2.7.3 Nutrisi
2.7.3.1 Konsumsi 500 kalori tiap hari
2.7.3.2 Makanan dengan diit seimbang untuk dapat protein, vitamin dan mineral yang cukup.
2.7.3.3 Minum air putih ± 3 liter setiap hari
2.7.3.4 Minum pil penambah darah selama 40 hari pasca persalinan.

2.7.4 Perawatan Payudara
2.7.4.1 Menjaga payudara tetap bersih dan kering
2.7.4.2 Memakai bra yang menopang
2.7.4.3 Bila puting susu lecet, oleskan ASI yang keluar pada sekitar puting susu tiap kali selesai menyusui
2.7.4.4 Bila lecet berat istirahat 24 jam ASI dikeluarkan dan diminimkan dengan memakai sendok.
2.7.4.5 Bila payudara bengkak akibat bendungan ASI kompres payudara dengan kain basah dan hangat selama 5-10 menit.

2.7.5 Hubungan Seksual
Secara fisik aman untuk berhubungan suami istri begitu darah yang merah berhenti dan ibu dapat memasukkan 1 atau 2 jari ke dalam vagina tanpa rasa nyeri. Begitu darah merah berhenti dan ia tidak merasakan ketidaknyamanan, aman untuk melakukan hubungan suami istri kapan saja ibu siap.

2.7.6 Keluarga Berencana
Idealnya pasangan harus menunggu sekurang-kurangnya 2 tahun sebelum ibu hamil kembali. Setiap pasangan harus menentukan sendiri kapan dan bagaimana mereka ingin merencanakan kehamilannya. Namun petugas kesehatan dapat membantu merencanakan dengan mengajarkan kepada mereka tentang cara mencegah kehamilan yang tidak diinginkan. Biasanya wanita tidak akan menghasilkan telur (ovulasi) sebelum ia mendapatkan lagi haidnya selama meneteki. Oleh karena itu, metode amenorhea laktasi dapat dipakai sebelum haid pertama kembali untuk mencegah terjadinya kehamilan baru.

2.8 Pengawasan Akhir Kala Nifas
Pemeriksaan akhir kala nifas (post partum) sangat penting karena dapat digunakan untuk melakukan pemeriksaan khusus sebagai berikut:
2.8.1 Melakukan pemeriksaan pap smear untuk mencari kemungkinan kelainan stilogi sel servik/sel endometrium
2.8.2 Menilai seberapa jauh involusi uteri
2.8.3 Melakukan pemeriksaan inspekulo, sehingga dapat menilai perlukaan post partum
2.8.4 Mempersiapkan untuk menggunakan metode KB.

2.9 Konsep Asuhan Kebidanan
Asuhan kebidanan adalah bantuan yang diberikan oleh bidan kepada individu pasien atau klien yang pelaksanaannya dilakukan dengan cara:
- Bertahap dan sistematis
- Melalui suatu proses yang disebut manajemen kebidanan

1. Manajemen Kebidanan menurut Varney, 1997
1. Pengertian
 Proses pemecahan masalah
 Digunakan sebagai metode untuk mengorganisasikan pikiran dan tindakan berdasarkan teori ilmiah.
 Penemuan-penemuan keterampilan dalam rangkaian atau tahapan yang logis.
 Untuk pengambilan suatu keputusan
 Yang berfokus pada klien.


2. Langkah-langkah
I. Mengumpulkan semua data yang dibutuhkan untuk memulai keadaan klien secara keseluruhan.
II. Menginterpretasikan data untuk mengidentifikasi diagnosa atau masalah.
III. Mengidentifikasi diagnosa atau masalah potensial dan mengantisipasi penanganannya.
IV. Menetapkan kebutuhan terhadap tindakan segera, konsultasi, kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain serta rujukan berdasarkan kondisi klien.
V. Menyusun rencana asuhan secara menyeluruh dengan tepat dan rasional berdasarkan keputusan yang dibuat pada langkah-langkah sebelumnya.
VI. Pelaksanaan langsung asuhan secara efisien dan aman.
VII. Mengevaluasi keefektifan asuhan yang dilakukan, mengulang kembali manajemen proses untuk aspek-aspek asuhan yang tidak efektif.

* Langkah 1: Tahap Pengumpulan Data Dasar
Pada langkah pertama ini berisi semua informasi yang akurat dan lengkap dari semua sumber yang berkaitan dengan kondisi klien. Yang terdiri dari data subjektif data objektif. Data subjektif adalah yang menggambarkan pendokumentasian hasil pengumpulan data klien melalui anamnesa. Yang termasuk data subjektif antara lain biodata, riwayat menstruasi, riwayat kesehatan, riwayat kehamilan, persalinan dan nifas, biopskologi spiritual, pengetahuan klien.
Data objektif adalah yang menggambarkan pendokumentasian hasil pemeriksaan fisik klien, hasil laboratorium dan test diagnostik lain yang dirumuskan dalam data fokus. Data objektif terdiri dari pemeriksaan fisik yang sesuai dengan kebutuhan dan pemeriksaan tanda-tanda vital, pemeriksaan khusus (inspeksi, palpasi, auskultasi, perkusi), pemeriksaan penunjang (laboratorium, catatan baru dan sebelumnya).

* Langkah II : Interpretasi Data Dasar
Pada langkah ini dilakukan identifikasi terhadap diagnosa atau masalah berdasarkan interpretasi yang benar atas data-data yang telah dikumpulkan.

* Langkah III: Mengidentifikasi Diagnosa atau masalah potensial dan mengantisipasi penanganannya
Pada langkah ini kita mengidentifikasi masalah potensial atau diagnosa potensial berdasarkan diagnosa atau masalah yang sudah diidentifikasi. Langkah ini membutuhkan antisipasi, bila memungkinkan dilakukan pencegahan. Bidan diharapkan dapat waspada dan bersiap-siap diagnosa atau masalah potensial ini benar-benar terjadi.

* Langkah IV: Menetapkan kebutuhan terhadap tindakan segera, untuk melakukan konsultasi, kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain berdasarkan kondisi klien
Mengidentifikasi perlunya tindakan segera oleh bidan atau dokter dan untuk dikonsultasikan atau ditangani bersama dengan anggota tim kesehatan yang lain sesuai dengan kondisi klien.

* Langkah V : Menyusun rencana asuhan yang menyeluruh
Pada langkah ini direncanakan usaha yang ditentukan oleh langkah-langkah sebelumnya. Langkah ini merupakan kelanjutan manajemen terhadap masalah atau diagnosa yang telah diidentifikasi atau diantisipasi.

* Langkah VI : pelaksanaan langsung asuhan dengan efisien dan aman
Pada langkah keenam ini rencana asuhan menyeluruh seperti yang diuraikan pada langkah kelima dilaksanakan secara efisien dan aman. Perencanaan ini bisa dilakukan seluruhnya oleh bidan atau sebagian lagi oleh klien atau anggota tim kesehatan lainnya. Walau bidan tidak melakukan sendiri ia tetap memikul tanggung jawab untuk mengarahkan pelaksanaannya.

* Langkah VII: Evaluasi
Pada langkah ini dilakukan evaluasi keefektifan dari asuhan yang sudah diberikan meliputi pemenuhan kebutuhan akan bantuan apakah benar-benar tetap terpenuhi sesuai dengan kebutuhan sebagaimana telah diidentifikasi di dalam diagnosa dan masalah. Rencana tersebut dianggap efektif jika memang benar dalam pelaksanaannya.


BAB III
TINJAUAN KASUS

3.1 PENGKAJIAN
Tanggal : 26-9-2006 Jam : 00.45
3.1.1 Data Subjektif
3.1.1.1
Nama : Ny. M
Umur : 40 tahun
Suku/bangsa : Jawa/Indonesia
Pendidikan : SMP
Pekerjaan : Pedagang
Penghasilan : ± 1.500.000/bln
Alamat : Surabaya
No. Register : 95-111-06 Nama suami : Tn. S
Umur : 48 tahun
Suku/bangsa : Jawa/Indonesia
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Pedagang
Penghasilan : ± 2.000.000/bln
Alamat : Surabaya

3.1.1.2 Keluhan Utama
Ibu mengatakan telah melahirkan 2 jam yang lalu dan perut masih terasa mules.
3.1.1.3 Riwayat Persalinan
1. Persalinan sekarang
- Tempat melahirkan : BPS Ny. Sri Kasijati, Amd.Keb
- Jenis Persalinan : Spt B
- Penyulit Persalinan : Tidak ada
- Penolong : bidan

BAYI
Lahir : 25-9-2006 Jam : 22.30
BB/PB : 3300 gr/50 cm
AS : 7-10
Cacat bawaan : (-)
Masa gestasi : 38/39 minggu
2. Persalinan yang lalu
Suami ke Anak Ke Kehamilan Persalinan Bayi Nifas KB
Usia Penyulit Jenis Penyulit Tempat Penolong L/P
BB/PB AS Keadaan Umur Penyulit Laktasi

I 9 bln - Spt B - BPS Bidan 
3400/57 - Baik 12 thn - 5 th -
II 9 bln - Spt B - BPS Bidan 
4100/58 - Baik 9 thn - 2 th -
III 9 bln - Spt B - BPS Bidan 
3700/57 - Baik 14 bulan - 7 bln Pil
IV 38/39 - Spt B - BPS Bidan 
3300/50 7-10 Baik 2 jam - - -

3.1.1.4 Riwayat Psikososial
- Respon ibu dan keluarga : baik
- Persepsi ibu terhadap respon keluarga : baik
- Hubungan dengan keluarga : baik
3.1.1.5 Perilaku kesehatan
Ibu mengatakan jika sakit pergi ke dokter atau petugas kesehatan yang lain dan tidak minum obat-obatan kecuali dari dokter atau petugas kesehatan yang lain.
3.1.1.6 Pola kebiasaan sehari-hari
- Pola Nutrisi
Di rumah: makan 3x/hari 1 porsi dengan nasi, lauk, sayur. Minum 8-10 gelas/hari.
Di BPS : makan 1x porsi kecil dengan nasi, lauk, sayur. Minum 1 gelas air putih dan teh manis.
- Eliminasi
Di rumah: BAK 6-8 x/hari, BAB 2 hari sekali
Di BPS : BAB (-), BAK (-)
- Personal hygiene
Di rumah : mandi 2x/hari. Ganti baju 2x/hari.
Di BPS : setelah bersalin dimandikan diatas tempat tidur oleh petugas

- Istirahat
Di rumah : mandi 2x/hari, ganti baju 2x/hari
Di BPS : setelah melahirkan belum istirahat
- Aktivitas
Di rumah: selain berdagang juga melakukan kegiatan IRT seperti memasak, menyapu, mencuci.
Di BPS : setelah melahirkan belum melakukan aktivitas apa saja dan masih terbaring di tempat tidur.
- Hubungan sexual :
Di rumah : melakukan hubungan sexual 3x/minggu
Di BPS : setelah melahirkan ibu belum melakukan hubungan sexual.

3.1.2 Data Objektif
3.1.2.1 Kesadaran : composmentis
3.1.2.2 TTV : TD : 120/80 mmHg RR : 24x/menit
S : 367°C N : 88 x/menit
3.1.2.3 Pemeriksaan fisik
Mata : - Conjungtiva : tidak anemis
- Sklera : tidak ikterus
Payudara : - Colostrum : belum keluar
- Bentuk: bulat, tegang
- Puting susu: menonjol
- Pembengkakan : tidak ada
- Nyeri tekan : tidka ada
Pengeluaran Lochea : - Warna : merah
- Jumlah : 1 kotek
- Bau : anyir
Perineum : - Bekas jahitan : ada
- Kebersihan : baik
- Odema : tidak ada

Ekstremitas atas dan bawah:
- Odema :
- Varices :
- Reflek Patela : +/+

3.1.2.4 Data Penunjang
Tidak ada

3.2 Analisa Masalah/Diagnosa
DX : P40004 2 jam PP fisiologis
DS : Ibu mengatakan telah melahirkan 2 jam yang lalu, perut masih terasa mules dan keluar darah sedikit-sedikit
DO : KU baik
TD : 120/80 mmHg RR : 24x/mnt
N : 88 x/menit S : 367°C
TFU 1 jari dibawah pusat
UC : (+) baik
Perdarahan 50 cc
Pada perineum terdapat luka jahitan, kondisinya bersih dan masih basah di kompres dengan betadin.

3.3 Diagnosa Potensial
Tidak ada

3.4 Identifikasi Kebutuhan Segera
Tidak ada





3.5 Intervensi

Diagnosa Intervensi Rasional
P40004 2 jam PP fisiologis Tujuan : Setelah dilakukan asuhan kebidanan selama 24 jam diharapkan ibu tidak ada keluhan.

Kriteria :
- Ibu mengerti dengan penjelasan yang diberikan petugas
- Ibu tidak ada keluhan dan KU baik
-Ibu mampu melakukan aktivitas seperti biasa
Intervensi:
1. Lakukan pendekatan terapeutik pada klien

3. Berikan HE tentang gizi seimbang ibu nifas, perawatan luka perinium, personal higiene.
Rasional : dengan memberikan HE tentang gizi seimbang diharapkan ibu dan bayi sehat. HE tentang perawatan luka dan personal higiene diharapkan luka tetap terjaga dengan baik sehingga membantu kesembuhan Rasional : diharapkan terjadlin hubungan yang baik antara petugas kesehatan dan ibu.
Rasional : dengan pemantauan ketat kita bisa mengetahui dengan cepat jika terjadi komplikasi terutama perdarahan
2. Observasi TTV dan proses involusi uterus
.






DX : P40004 2 jam PP fisiologis
DS : Ibu mengatakan telah melahirkan 2 jam yang lalu dan perut masih terasa mules
DO : KU baik
TD : 120/80 mmHg RR : 24x/mnt
N : 88 x/menit S : 367°C
VC : (+) baik
TFU 1 jari dibawah pusat
Perdarahan 1 kotek
Luka perinium basah di kompres dengan betadin.
.

3.6 Implementasi
3.6.1 Melakukan pendekatan terapeutik pada klien
- Memberi salam dan menyapa dengan senyum
- Berbicara dengan sopan
- Tidak melakukan aktivitas jika berbicara dengan ibu

3.6.2 Melakukan observasi TTV dan proses involusi uterus
KU : baik
TD : 120/80 mmHg RR : 24x/mnt
N : 88 x/menit S : 367°C
VC : (+) baik
Konsistensi : keras Lochea : rubra
Perdarahan :1 kotek
3.6.3 Melakukan HE tentang
- Gizi seimbang ibu nifas
* Makan makanan yang berprotein, misal: ikan, telur
* Makan sayuran yang mengandung zat besi, misal: bayam, daun ketela
* Makan makanan rendah lemak.
- Perawatan luka perinium dan personal higiene
* Cebok menggunakan sabun setiap kali BAK/BAB
* Menjaga luka selalu dalam keadaan kering
* Kompres luka dengan menggunakan kapas betadin setiap selesai mandi, BAK dan BAB untuk mencegah terjadinya infeksi.

3.7 Evaluasi
Tanggal : 26-09-2006 Jam : 04.45
S : Ibu mengatakan perutnya masih terasa mules
O : KU : baik
TD : 120/80 mmHg RR : 20x/mnt
N : 80x/mnt S: 36°C
TFU 1 jari dibawah pusat
VC (+) baik, perdarahan 1 kotek
Luka jahitan : bersih dan masih basah dikompres dengan betadin.
A : P40004 6 jam PP fisiologis
P : Lanjutkan observasi TTV dan involusi uterus


BAB IV
KESIMPULAN

Dari berbagai uraian masalah penerapan manajemen kebidanan dalam memberikan Asuhan Kebidanan dapat diperoleh kesimpulan sebagai berikut:
1. Dalam melakukan pengkajian diperlukan komunikasi terapeutik yang baik dengan klien sehingga dapat diperoleh data yang lengkap.
2. Dengan menganalisa data secara cermat maka akan dibuat diagnosa masalah.
3. Dalam menyusun rencana tindakan asuhan kebidanan tidak mengalami kesulitan jika kerjasama yang baik dengan klien.
4. Pelaksanaan tindakan disesuaikan dengan prioritas masalah didasarkan perencanaan tindakan yang disusun.
5. Hasil evaluasi dari kegiatan yang telah dilaksanakan merupakan penilaian tentang keberhasilan asuhan kebidanan.


DAFTAR PUSTAKA


• Depkes RI. 2004. Perawatan Ibu di Puskesmas. Surabaya.
• Depkes RI. 2002. Asuhan Persalinan Normal. JHPIEGO. Jakarta.
• Depkes RI. 2001. Konsep Asuhan Kebidanan. JHPIEGO. Jakarta.
• Mochtar, Rustam. 1998. Sinopsis Obstetry Jilid I. EGC: Jakarta.
• Mansjoer Arif dkk. 2001. Kapita Selekta Kedokteran Jilid I. Media Aesculaplus. Jakarta.
• Manuaba, Ida Bagus Gede. 1998. Sinopsis Obstetry Jilid I. EGC. Jakarta.
• Neil-Wendy Rose. Perawatan Kehamilan. Dian Rakyat. Jakarta.
• Prawirohardjo, Sarwono. 2002. Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Yayasan Bina Pustaka, Jakarta.
• Pusdiknakes. 2001. Konsep Asuhan Kebidanan. JHPIEGO. Jakarta.
• Saifudin, Abdul Bahri. 2002. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal Neonatal. JHPIEGO. Jakarta.
• Prawirohardjo, Sarwono. 1999. Ilmu Kandungan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka.
• Saifudin, Abdul Bahri. 2002. Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka
• Supriyadi, Teddy-Gunawan, Johanes. 1994. Kapita Selekta Kedokteran Obstetri dan Ginekologi. Jakarta: Buku Kedokteran.
• Varney, Hellen. 2001. Buku Saku Bidan. Jakarta: EGC.







KATA PENGANTAR

Dengan mengucap puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, taufik serta hidayahNya, sehingga penulis dapat menyelesaikan studi kasus dengan judul “Asuhan Kebidanan Pada Ny. “M” 2 jam Post Partum Fisiologis di BPS Ny. Sri Kasijati, Amd.Keb, Surabaya”.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan laporan studi kasus ini tak lepas dari bimbingan dan petunjuk serta bantuan dari berbagai pihak, oleh karena itu dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:
1. Sri Kasijati, Amd.Keb selaku kepala BPS Sri Kasijati.
2. Nurul Zubaidah, Amd.Keb selaku Pembimbing Praktek di BPS Sri Kasijati.
3. Prof. Dr. H.R. Soedibyo HP.dr.DTM selaku Ketua STIKES ABI Surabaya.
4. Hj. Sri Mekar, SST selaku Pembimbing Pendidikan STIKES ABI Surabaya.
5. Lia Hartanti, SST selaku Ketua Jurusan Prodi DIII Kebidanan STIKES ABI Surabaya.
6. Semua pegawai di BPS Sri Kasijati Surabaya.
7. Semua rekan mahasiswa DIII Kebidanan STIKES ABI Surabaya yang turut membantu dalam penyelesaian makalah ini.
Penulis menyadari bahwa penyusunan makalah ini masih jauh dari sempurna. Untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran demi penyempurnaan makalah ini. Semoga laporan ini bermanfaat bagi pembaca.


Surabaya,





DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL i
LEMBAR PENGESAHAN ii
KATA PENGANTAR iii
DAFTAR ISI iv

BAB I PENDAHULUAN 1
1.1 Latar Belakang 1
1.2 Tujuan 2
1.2.1 Tujuan Umum 2
1.2.2 Tujuan Khusus 2
1.3 Metode Penulisan 2
1.4 Sistematika Penulisan 2

BAB II LANDASAN TEORI 4
2.1 Pengertian 4
2.2 Perubahan Fisiologis Pada Ibu Nifas 4
2.2.1 Involusi Rahim 4
2.2.2 Involusi Tempat Placenta 4
2.2.3 Perubahan Pembuluh Darah 5
2.2.4 Perubahan Pada Servik dan Vagina 5
2.2.5 Dinding Perut dan Peritonium 5
2.2.6 Laktasi 5
2.2.7 Lochea 6
2.3 Perubahan Sistem Tubuh Lainnya 6
2.3.1 Suhu Badan 6
2.3.2 Nadi 6
2.3.3 Sistem Perkemihan dan Buang Air Besar 7
2.3.4 Sistem Muskulosceletal 7
2.3.5 Sistem Kardiovaskular 7
2.4 Perubahan Psikologi Masa Nifas 7
2.4.1 Peran sebagai Ibu 7
2.5 Program Kebijakan Teknis 9
2.6 Tanda Bahaya Pada Masa Nifas 10
2.6.1 Perdarahan Pervaginam Banyak dan Menggumpal 10
2.6.2 Lochea Berbau 10
2.6.3 Payudara Yang Berubah Menjadi Merah Panas
dan terasa nyeri 10
2.6.4 Kaki Terasa Sakit, Merah, Bengkak 10
2.6.5 Demam 10
2.6.6 Rasa Sakit waktu BAK, kemungkinan
penyebab sistisis 11

2.7 Kebutuhan Dasar Ibu Masa Nifas 11
2.7.1 Istirahat 11
2.7.2 Personal Higiene 11
2.7.3 Nutrisi 12
2.7.4 Perawatan Payudara 12
2.7.5 Hubungan Sexual 12
2.7.6 Keluarga Berencana 12
2.8 Pengawasan Akhir Kala Nifas 13
2.9 Konsep Asuhan Kebidanan 13

BAB III TINJAUAN KASUS 17
3.1 Pengkajian 17
3.1.1 Data Subjektif 17
3.1.2 Data Objektif 19
3.2 Analisa Masalah/Diagnosa 20
3.3 Diagnosa Potensial 20
3.4 Identifikasi Kebutuhan Segera 20
3.5 Intervensi 20
3.6 Implementasi 21
3.7 Evaluasi 22
BAB IV KESIMPULAN 23

DAFTAR PUSTAKA
Selasa, 22 November 2011

1.Definisi
Fraktur adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang.
2.Anatomi dan Fisiologi
Ada perbedaan yang mendasar antara fraktur pada anak dengan fraktur pada orang dewasa, perbedaan tersebut pada anatomi, biomekanik, dan fisiologi tulang. Pada anak-anak antara epifisis dan metafisis terdapat lempeng epifisis sebagai daerah pertumbuhan kongenital. Lempeng epifisis ini akan menghilang pada dewasa, sehingga epifisis dan metafisis ini akan menyatu pada saat itulah pertumbuhan memanjang tulang akan berhenti
Tulang panjang terdiri dari : epifisis, metafisis dan diafisis. Epifisis merupakan bagian paling atas dari tulang panjang, metafisis merupakan bagian yang lebih lebar dari ujung tulang panjang, yang berdekatan dengan diskus epifisialis, sedangkan diafisis merupakan bagian tulang panjang yang di bentuk dari pusat osifikasi primer.Seluruh tulang diliputi oleh lapisan fibrosa yang disebut periosteum, yang mengandung sel-sel yang dapat berproliferasi dan berperan dalam proses pertumbuhan transversal tulang panjang. Kebanyakan tulang panjang mempunyai arteria nutrisi. Lokasi dan keutuhan dari pembuluh darah inilah yang menentukan berhasil atau tidaknya proses penyembuhan suatu tulang yang patah.Pada anak, terdapat lempeng epifisis yang merupakan tulang rawan pertumbuhan. Periosteum sangat tebal dan kuat dimana pada proses bone helding akan menghasilkan kalus yang cepat dan lebih besar daripada orang dewasa.
Perbedaan di atas menjelaskan perbedaan biomekanik tulang anak-anak dibandingkan orang dewasa, yaitu :
• Biomekanik tulang
Tulang anak-anak sangat porous, korteks berlubang-lubang dan sangat mudah dipotong oleh karena kanalis Haversian menduduki sebagian besar tulang. Faktor ini menyebabkan tulang anak-anak dapat menerima toleransi yang besar terhadap deformasi tulang dibandingkan orang dewasa. Tulang orang dewasa sangat kompak dan mudah mengalami tegangan dan tekanan sehingga tidak dapat menahan kompresi.
• Biomekanik lempeng pertumbuhan
Lempeng pertumbuhan merupakan tulang rawan yang melekat pada metafisis yang bagian luarnya diliputi oleh periosteum sedang bagian dalamnya oleh procesus mamilaris. Untuk memisahkan metafisis dan epifisis diperlukan kekuatan yang besar. Tulang rawan lempeng epifisis mempunyai konsistensi seperti karet yang besar.
• Biomekanik periosteum
Periosteum pada anak-anak sangat kuat dan tebal dan tidak mudah mengalami robekan dibandingkan orang dewasa.
Pada anak-anak, pertumbuhan merupakan dasar terjadinya remodelling yang lebih besar dibandingkan pada orang dewasa, sehingga tulang pada anak-anak mempunyai perbedaan fisiologi, yaitu :
§ Pertumbuhan berlebihan (over growth)
Pertumbuhan diafisis tulang panjang akan memberikan stimulasi pada pertumbuhan panjang, karena tulang rawan lempeng epifisis mengalami hiperemi pada waktu penyambungan.
§ Deformitas yang progresif
Kerusakan permanen pada lempeng epifisis akan terjadi pemendekan atau angulasi.
§ Fraktur total
Pada anak-anak fraktur total jarang bersifat komunitif karena tulangnya sangat fleksibel dibandingkan orang dewasa.
3.Etiologi
Fraktur dapat disebabkan karena oleh :
1. Trauma
2. Non Trauma
3. Stress
1. Trauma
Trauma dapat dibagi menjadi trauma langsung dan trauma tidak langsung. Trauma langsung berarti benturan pada tulang dan mengakibatkan fraktur di tempat itu, sedangkan trauma tidak langsung bilamana titik tumpuan benturan dengan terjadinya fraktur bergantian.
2. Non Trauma
Fraktur terjadi karena kelemahan tulang akibat kelainan patologis didalam tulang, non trauma ini bisa karena kelainan metabolik atau infeksi.
3. Stress
Fraktur stress terjadi karena trauma yang terus-menerus pada suatu tempat tertentu.
4.Klasifikasi
Klasifikasi fraktur pada anak dapat dikelompokkan berdasarkan radiologis, anatomis, klinis dan fraktur yang khusus pada anak.
A. Klasifikasi Radiologi
- Fraktur Buckle atau torus
- Tulang melengkung- Fraktur green-stick
- Fraktur total
B. Klasifikasi Anatomis

- Fraktur epifisis
- Fraktur lempeng epifisis
- Fraktur metafisis
- Fraktur diafisis
C. Klasifikasi Klinis
- Traumatik
- Patologik
- Stress
D. Fraktur khusus pada anak
- Fraktur akibat trauma kelahiran
Fraktur yang terjadi pada saat proses kelahiran sering terjadi pada saat melahirkan bahu bayi, (pada persalinan sungsang). Fraktur yang terjadi biasanya disebabkan karena tarikan yang terlalu kuat yang tidak disadari oleh penolong.
- Fraktur salter-Haris
Klasifikasi salter haris untuk patah tulang yang mengenai lempeng epifisis distal tibia dibagi menjadi lima tipe :
Tipe 1 : Epifisis dan cakram epifisis lepas dari metafisis tetapi periosteumnya masih utuh.
Tipe 2 : Periost robek di satu sisi sehingga epifisis dan cakram epifisis lepas sama sekali dari metafisis.
Tipe 3 : Patah tulang cakram epifisis yang melalui sendi
Tipe 4 : Terdapat fragmen patah tulang yang garis patahnya tegak lurus cakram epifisis
Tipe 5 : Terdapat kompresi pada sebagian cakram epifisis yang menyebabkan kematian dari sebagian cakram tersebut.
4.Beberapa jenis fraktur khusus pada anak
Ada 2 jenis fraktur khusus pada anak yaitu di daerah epifisis dan di lempeng epifisis. Fraktur epifisis jarang terjadi tanpa disertai dengan fraktur lempeng epifisis, yang dibagi dalam :
1. Fraktur avulsi akibat tarikan ligamen
2. Fraktur kompresi yang bersifat komunitif
3. Fraktur osteokondral
Fraktur pada lempeng epifisis merupakan 1/3 dari seluruh fraktur pada anak-anak. Lempeng epifisis berupa diskus tulang rawan yang terletak diantara epifisis dan metafisis.
Banyak klasifikasi fraktur lempeng epifisis, yaitu menurut Poland, Salter-Harris, Aitken, Weber, Rang dan Ogend. Tapi yang paling sering digunakan adalah menurut Salter-Harris karena paling mudah, praktis dan memenuhi syarat untuk terapi dan prognosis.
Klasifikasi menurut Salter-Harris dibagi dalam lima tipe, yaitu (6,7) :
Tipe I
Epifisis dan cakram epifisis lepas dari metafisis tetapi periosteumnya masih utuh.
Tipe II
Garis fraktur melalui sepanjang lempeng epifisis dan membelok ke metafisis dan akan membentuk suatu fragmen metafisis yang berbentuk segitiga disebut tanda Thurston-Holland.
Tipe III
Garis fraktur mulai permukaan sendi melewati lempeng epifisis kemudian sepanjang garis lempeng epifisis.
Tipe IV
Merupakan fraktur intra-intraartikuler yang melalui permukaan sendi memotong epifisis serta seluruh lapisan lempeng epifisis dan berlanjut pada sebagian metafisis.
Tipe V
Terdapat kompresi pada sebagian cakram epifisis yang menyebabkan kematian dari sebagian cakram tersebut.
5.Diagnosa
Diagnosis fraktur ditegakkan atas dasar anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang yaitu radiologis. Pada anak biasanya diperoleh dengan alloanamnesis dimana ditemukan adanya riwayat trauma dan gejala-gejala seperti nyeri, pembengkakan, perubahan bentuk dan gangguan gerak. Pada pasien dengan riwayat trauma yang perlu ditanyakan adalah waktu terjadinya, cara terjadinya, posisi penderita dan lokasi trauma. Bila tidak ada riwayat trauma berarti merupakan fraktur patologis.
Pada pemeriksaan fisik dilakukan :
• Look (Inspeksi)
- Deformitas : angulasi ( medial, lateral, posterior atau anterior), diskrepensi (rotasi, perpendekan atau perpanjangan).
- Bengkak atau kebiruan.
- Fungsio laesa (hilangnya fungsi gerak)
• Feel (Palpasi)
- Tenderness (nyeri tekan) pada derah fraktur.
- Krepitasi.
- Nyeri sumbu.
• Move (Gerakan)
- Nyeri bila digerakan, baik gerakan aktif maupun pasif.
- Gerakan yang tidak normal yaitu gerakan yang terjadi tidak pada sendinya.
• Pemeriksan trauma di tempat lain seperti kepala, thorak, abdomen, tractus urinarius dan pelvis.
• Pemeriksaan komplikasi fraktur seperti neurovaskular bagian distal fraktur yang berupa pulsus arteri, warna kulit, temperatur kulit, pengembalian darah ke kapiler (Capillary refil test), sensasi motorik dan sensorik.
Sebagai penunjang, pemeriksaan yang penting adalah pemeriksan Radiologi. Untuk melengkapi deskripsi fraktur dan dasar untuk tindakan selanjutnya. Foto rontgen minimal harus dua proyeksi yaitu AP dan lateral.
6.Penyembuhan Fraktur pada Anak
Proses penyembuhan fraktur adalah suatu proses biologis alami yang akan terjadi pada setiap fraktur. Setiap tulang yang mengalami fraktur dapat sembuh tanpa jaringan parut.
Proses penyembuhan mulai terjadi segera setelah tulang mengalami kerusakan bila lingkungannya memadai maka bisa sampai terjadi konsolidasi. Faktor mekanis seperti imobilisasi sangat penting untuk penyembuhan, selain itu faktor biologis juga sangat esensial dalam penyembuhan fraktur.
Proses penyembuhan fraktur berbeda-beda pada tulang kortikal (pada tulang panjang), tulang kanselosa (pada metafisis tulang panjang dan tulang-tulang pendek) dan pada tulang rawan persendian.
a.Penyembuhan fraktur pada tulang kortikal
Proses penyembuhan fraktur pada tulang kortikal terdiri atas lima fase, yaitu :
1. Fase hematoma
Apabila terjadi fraktur pada tulang panjang, maka pembuluh darah kecil yang melewati kanalikuli dalam sistem Haversian mengalami robekan pada daerah fraktur dan akan membentuk hematoma diantara kedua sisi fraktur. Hematoma yang besar diliputi oleh periosteum. Periosteum akan terdorong dan dapat mengalami robekan akibat tekanan hematoma yang terjadi sehingga dapat terjadi ekstravasasi darah ke dalam jaringan lunak.
Osteosit dengan lakunanya yang terletak beberapa milimeter dari daerah fraktur akan kehilangan darah dan mati, yang akan menimbulkan suatu daerah cincin avaskuler tulang yang mati pada sisi-sisi fraktur segera setelah trauma.
2. Fase proliferasi seluler subperiosteal dan endosteal
Pada fase ini terjadi reaksi jaringan lunak sekitar fraktur sebagai suatu reaksi penyembuhan. Penyembuhan fraktur terjadi karena adanya sel-sel osteogenik yang berproliferasi dari periosteum untuk membentuk kalus eksterna serta pada daerah endosteum membentuk kalus interna sebagai aktifitas seluler dalam kanalis medularis. Apabila terjadi robekan yang hebat pada periosteum, maka penyembuhan sel berasal dari diferensiasi sel-sel mesenkimal yang tidak berdiferensiasi ke dalam jaringan lunak. Pada tahap awal dari penyembuhan fraktur ini terjadi pertambahan jumlah dari sel-sel osteogenik yang memberi pertumbuhan yang cepat pada jaringan osteogenik yang sifatnya lebih cepat dari tumor ganas. Pembentukan jaringan seluler tidak terbentuk dari organisasi pembekuan hematoma suatu daerah fraktur. Setelah beberapa minggu, kalus dari fraktur akan membentuk suatu massa yang meliputi jaringan osteogenik. Pada pemeriksaan radiologis kalus belum mengandung tulang sehingga merupakan suatu daerah radiolusen.
3. Fase pembentukan kalus (fase union secara klinis)
Setelah pembentukan jaringan seluler yang bertumbuh dari setiap fragmen sel dasar yang berasal dari osteoblas dan kemudian pada kondroblas membentuk tulang rawan. Tempat osteoblast diduduki oleh matriks interseluler kolagen dan perlengketan polisakarida oleh garam-garam kalsium membentuk suatu tulang yang imatur. Bentuk tulang ini disebut sebagai woven bone. Pada pemeriksaan radiologi kalus atau woven bone sudah terlihat dan merupakan indikasi radiologik pertama terjadinya penyembuhan fraktur.
4. Fase konsolidasi (fase union secara radiologik)
Woven bone akan membentuk kalus primer dan secara perlahan-lahan diubah menjadi tulang yang lebih matang oleh aktivitas osteoblas yang menjadi struktur lamelar dan kelebihan kalus akan diresorpsi secara bertahap.
5. Fase remodeling
Bilamana union telah lengkap, maka tulang yang baru membentuk bagian yang menyerupai bulbus yang meliputi tulang tetapi tanpa kanalis medularis. Pada fase remodeling ini, perlahan-lahan terjadi resorpsi secara osteoklastik dan tetap terjadi proses osteoblastik pada tulang dan kalus eksterna secara perlahan-lahan menghilang. Kalus intermediat berubah menjadi tulang yang kompak dan berisi sistem Haversian dan kalus bagian dalam akan mengalami peronggaan untuk membentuk ruang sumsum.
b.Penyembuhan fraktur pada tulang kanselosa
Penyembuhan fraktur pada tulang kanselosa terjadi secara cepat karena beberapa faktor, yaitu :
1. Vaskularisasi yang cukup.
2. Terdapat permukaan yang lebih luas.
3. Kontak yang baik memberikan kemudahan vaskularisasi yang cepat.
4. Hematoma memegang peranan dalam penyembuhan fraktur.
Tulang kanselosa yang berlokalisasi pada metafisis pada tulang panjang, tulang pendek serta tulang pipih diliputi oleh korteks yang tipis. Penyembuhan fraktur pada daerah tulang kanselosa melalui proses pembentukan kalus interna dan endosteal. Pada anak-anak proses penyembuhan pada daerah korteks juga memegang peranan penting. Proses osteogenik penyembuhan sel dari bagian endosteal yang menutupi trabekula, berproliferasi untuk membentuk woven bone primer didalam daerah fraktur yang disertai hematoma. Pembentukan kalus interna mengisi ruangan pada daerah fraktur. Penyembuhan fraktur pada tulang kanselosa terjadi pada daerah dimana terjadi kontak langsung diantara kedua permukaan fraktur yang berarti satu kalus endosteal. Apabila terjadi kontak dari kedua fraktur maka terjadi union secara klinis. Selanjutnya woven bone diganti oleh tulang lamelar dan tulang mengalami konsolidasi.
c.Penyembuhan fraktur pada tulang rawan persendian
Tulang rawan hialin permukaan sendi sangat terbatas kemampuannya untuk regenerasi. Pada fraktur intraartikuler penyembuhan tidak terjadi melalui tulang rawan hialin, tetapi terbentuk melalui fibrokartilago.
Waktu penyembuhan fraktur
Waktu penyembuhan tulang pada anak-anak jauh lebih cepat daripada orang dewasa. Hal ini terutama disebabkan karena aktifitas proses osteogenesis pada periosteum dan endosteum dan juga berhubungan dengan proses remodelling tulang pada anak sangat aktif dan makin berkurang apabila umur bertambah. Selain itu fragmen tulang pada anak mempunyai vaskularisasi yang baik dan penyembuhan biasanya tanpa komplikasi. Waktu penyembuhan anak secara kasar adalah setengah kali waktu penyembuhan pada orang dewasa.
7.Penatalaksanaan Fraktur
Pilihan adalah terapi konservatif atau operatif. Pilihan harus mengingat tujuan pengobatan fraktur, yaitu : mengembalikan fungsi tulang yang patah dalam jangka waktu sesingkat mungkin.
I. Terapi Konservatif
a. Proteksi saja
Misalnya mitella untuk fraktur collum chirurgicum humeri dengan kedudukan baik.
b. Immobilisasi saja tanpa reposisi
Misalnya pemasangan gips atau bidai pada fraktur inkomplit dan fraktur dengan kedudukan baik.
c. Reposisi tertutup dan fiksasi dengan gips
Misalnya fraktur supracondylair, fraktur colles, fraktur smith. Reposisi dapat dengan anestesi umum atau anestesi lokal dengan menyuntikkan obat anestesi dalam hematoma fraktur. Fragmen distal dikembalikan pada kedudukan semula terhadap fragmen proksimal dan dipertahankan dalam kedudukan yang stabil dalam gips. Misalnya fraktur distal radius, immobilisasi dalam pronasi penuh dan fleksi pergelangan.
d. Traksi
Traksi dapat untuk reposisi secara perlahan dan fiksasi hingga sembuh atau dipasang gips setelah tidak sakit lagi. Pada anak-anak dipakai traksi kulit (traksi Hamilton Russel/traksi Bryant).
Traksi kulit terbatas untuk 4 minggu dan beban < 5 kg, untuk anak-anak waktu dan beban tersebut mencukupi untuk dipakai sebagai traksi definitif, bilamana tidak maka diteruskan dengan immobilisasi gips. Untuk orang dewasa traksi definitif harus traksi skeletal berupa balanced traction.
II. Terapi Operatif
a. Terapi operatif dengan reposisi secara tertutup dengan bimbingan radiologis (image intensifier, C-arm) :
1. Reposisi tertutup-Fiksasi eksterna
Setelah reposisi baik berdasarkan kontrol radiologis intraoperatif maka dipasang alat fiksasi eksterna.
2. Reposisi tertutup dengan kontrol radiologis diikuti fiksasi interna
Misalnya : reposisi fraktur tertutup supra condylair pada anak diikuti dengan pemasangan paralel pins. Reposisi tertutup fraktur collumum pada anak diikuti pinning dan immobilisasi gips.
Cara ini sekarang terus dikembangkan menjadi “close nailing” pada fraktur femur dan tibia, yaitu pemasangan fiksasi interna intra meduller (pen) tanpa membuka frakturnya.
b. Terapi operatif dengan membuka frakturnya :
1. Reposisi terbuka dan fiksasi interna
ORIF (Open Reduction and Internal Fixation)
Keuntungan cara ini adalah :
- Reposisi anatomis.
- Mobilisasi dini tanpa fiksasi luar.
Indikasi ORIF :
a. Fraktur yang tak bisa sembuh atau bahaya avasculair nekrosis tinggi, misalnya :
- Fraktur talus.
- Fraktur collum femur.
b. Fraktur yang tidak bisa direposisi tertutup. Misalnya :
- Fraktur avulsi.
- Fraktur dislokasi.
c. Fraktur yang dapat direposisi tetapi sulit dipertahankan. Misalnya :
- Fraktur Monteggia.
- Fraktur Galeazzi.
- Fraktur antebrachii.
- Fraktur pergelangan kaki.
d. Fraktur yang berdasarkan pengalaman memberi hasil yang lebih baik dengan operasi, misalnya : fraktur femur.
2. Excisional Arthroplasty
Membuang fragmen yang patah yang membentuk sendi, misalnya :
- Fraktur caput radii pada orang dewasa.
- Fraktur collum femur yang dilakukan operasi Girdlestone.
3. Excisi fragmen dan pemasangan endoprosthesis
Dilakukan excisi caput femur dan pemasangan endoprosthesis Moore atau yang lainnya.
Sesuai tujuan pengobatan fraktur yaitu untuk mengembalikan fungsi maka sejak awal sudah harus diperhatikan latihan-latihan untuk mencegah disuse atropi otot dan kekakuan sendi, disertai mobilisasi dini. Pada anak jarang dilakukan operasi karena proses penyembuhannya yang cepat dan nyaris tanpa komplikasi yang berarti.
III. Pengobatan Fraktur Terbuka
Fraktur terbuka adalah suatu keadaan darurat yang memerlukan penanganan segera.
Tindakan sudah harus dimulai dari fase pra-rumah sakit :
-Pembidaian
-Menghentikan perdarahan dengan perban tekan
-Menghentikan perdarahan besar dengan klem
Tiba di UGD rumah sakit harus segera diperiksa menyeluruh oleh karena 40% dari fraktur terbuka merupakan polytrauma.
Tindakan life-saving harus selalu didahulukan dalam kerangka kerja terpadu (team work).




DAFTAR PUSTAKA
1. Apley and Solomon, Fracture and Joint Injuries in Apley’s System of Orthopaedics and Fractures, Seventh Edition, Butterwordh-Heinemann, London, 1993, pp. 499-515.
2. Armis, Prinsip-prinsip Umur Fraktur dalam Trauma Sistema Muskuloskeletal, FKUGM, Yogyakarta, hal : 1-32.
3. Berend ME, Harrelson JM, Feagin JA, Fractures and Dislocation in Sabiston Jr DC, Texbook of Surgery The Biological Basis of Modern Surgical Practice, Fifteenth Edition, W.B. Saunders Company, Philadelphia, 1997, pp. 1398-1400.
4. Carter MA, Anatomi dan Fisiologi Tulang dan Sendi dalam Price SA, Wilson LM, Patofisiologi Konsep-konsep Klinis Proses- proses Penyakit, Buku II, edisi 4, EGC, Jakarta, 1994, hal 1175-80.
5. Dorland, Kamus Kedokteran, edisi 26, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta, 1996, hal 523,638,1119.
6. Rasjad C, Trauma dalam Pengantar Ilmu Bedah Orthopaedi, Bintang Lamumpatue Ujung Pandang, 1998, hal : 343-525
7. Reksoprodjo, S, Pemeriksaan Orthopaedi dalam Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah FKUI, Penerbit Binarupa Aksara, Jakarta, 1995, hal : 453-471.
8. Sjamsuhidajat R, Sistem Muskuloskeletal dalam Syamsuhidajat R, de Jong W, Buku Ajar Ilmu Bedah, EGC, Jakarta, 1997, hal : 1124-1286


Gangguan Perkembangan Bahasa pada Anak
Rabu, 9 Desember 2009 | 13:31 WIB




shutterstock
KOMPAS.com - Gangguan bicara dan bahasa adalah salah satu penyebab terhambatnya tumbuh-kembang anak yang sering ditemui. Adapun gangguan yang sering dikeluhkan orangtua yaitu keterlambatan bicara. Gangguan ini tampaknya semakin hari dilaporkan meningkat.

Beberapa laporan menyebutkan angka kejadian gangguan bicara dan bahasa berkisar 5-10 persen pada anak sekolah. Anak dikatakan mengalami keterlambatan bicara dan harus berkonsultasi dengan ahli, bila sampai usia 12 bulan sama sekali belum mengeluarkan ocehan atau babbling, sampai usia 18 bulan belum keluar kata pertama yang cukup jelas, padahal sudah dirangsang dengan berbagai cara, terlihat kesulitan mengatakan beberapa kata konsonan, seperti tidak memahami kata-kata yang kita ucapkan, serta terlihat berusaha sangat keras untuk mengatakan sesuatu, misalnya sampai ngiler atau raut muka berubah.

Penyebab keterlambatan bicara sangat luas dan banyak. Ada yang ringan sampai yang berat, mulai yang bisa membaik hingga yang sulit dikoreksi. Yang pasti, semakin dini mendeteksi keterlambatan bicara, maka semakin baik kemungkinan pemulihan gangguan tersebut.

Ada beberapa gangguan yang perlu diperhatikan orangtua:
1. Disfasia
Gangguan perkembangan bahasa yang tidak sesuai dengan perkembangan kemampuan anak seharusnya. Ditengarai gangguan ini muncul karena adanya ketidaknormalan pada pusat bicara yang ada di otak. Anak dengan gangguan ini pada usia setahun belum bisa mengucapkan kata spontan yang bermakna, misalnya mama atau papa.

Kemampuan bicara reseptif (menangkap pembicaraan orang lain) sudah baik tapi kemampuan bicara ekspresif (menyampaikan suatu maksud) mengalami keterlambatan. Karena organ bicara sama dengan organ makan, maka biasanya anak ini mempunyai masalah dengan makan atau menyedot susu dari botol.

2. Gangguan disintegratif pada kanak-kanak (Childhood Diintegrative Disorder/CDD)
Pada usia 1-2 tahun, anak tumbuh dan berkembang dengan normal, kemudian kehilangan kemampuan yang telah dikuasainya dengan baik. Anak berkembang normal pada usia 2 tahun pertama seperti kemampuan komunikasi, sosial, bermain dan perilaku. Namun kemampuan itu terganggu sebelum usia 10 tahun, yang terganggu di antaranya adalah kemampuan bahasa, sosial, dan motorik.

3. Sindrom Asperger
Gejala khas yang timbul adalah gangguan interaksi sosial ditambah gejala keterbatasan dan pengulangan perilaku, ketertarikan, dan aktivitas. Anak dengan gangguan ini mempunyai gangguan kualitatif dalam interaksi sosial. Ditandai dengan gangguan penggunaan beberapa komunikasi nonverval (mata, pandangan, ekspresi wajah, sikap badan), tidak bisa bermain dengan anak sebaya, kurang menguasai hubungan sosial dan emosional.

4. Gangguan multisystem development disorder (MSDD)
MSDD digambarkan dengan ciri-ciri mengalami problem komunikasi, sosial, dan proses sensoris (proses penerimaan rangsang indrawi). Ciri-cirinya yang jelas adalah reaksi abnormal, bisa kurang sensitif atau hipersensitif terhadap suara, aroma, tekstur, gerakan, suhu, dan sensasi indra lainnya. Sulit berpartisipasi dalam kegiatan dengan baik, tetapi bukan karena tertarik, minat berkomunikasi dan interaksi tetap normal tetapi tidak bereaksi secara optimal dalam interaksinya. Ada masalah yang terkait dengan keteraturan tidur, selera makan, dan aktivitas rutin lainnya.

http://kesehatan.kompas.com/read/2009/12/09/13312448/gangguan.perkembangan.bahasa.pada.anak

DISFASIA
Posted by: yuwielueninet on: April 28, 2008
• In: anak | artikel
• Comment!
DISFASIA
Disfasia adalah gangguan perkembangan bahasa yang tidak sesuai dengan perkembangan kemampuan anak seharusnya.
> Penyebab:Adanya gangguan di pusat bicara yang ada di otak.
>Ciri-ciri:• Usia 1 tahun belum bisa mengucapkan kata spontan yang bermakna, seperti mama, papa.• Kemampuan bicara reseptif (menangkap pembicaraan orang lain) sudah baik tapi kemampuanbiacara ekspresif (menyampaikan suatu maksud) mengalami keterlambatan.• Karena organ bicara sama dengan organ untuk makan, maka biasanya anak ini mempunyai masalah dengan makan atau menyedot susu dari botol.
>Jenis:• Murni disfasia.Murni disfasia adalah seperti penjelasan di atas.• Disfasia sebagai gejala awal gangguan lain.
Gangguan perkembangan bahasa sebagai gejala awal, contohnya seperti yang terjadi pada anak autis. Untuk mengatasinya, gangguan utamanya dulu yang diselesaikan, baru kemudian dilakukan terapi seperti anak yang murni disfasia.

Cara penanganan:
- Dokter anak akan memberikan obat untuk membantu memperbaiki sel-sel yang rusak di pusat bicara.
- Bersamaan dengan itu akan dilihat fungsi organ bicaranya, apakah juga ada gangguan atau tidak.
- Terapi wicara akan dilakukan dengan cara latihan otot bicara, seperti latihan meniup, menyedot, menggerakkan lidah ke kiri dan ke kanan, dan sebagainya. Kemudian anak diminta untuk menirukan bunyi, kata, baru kemudian kalimat.
TERAPI SENDIRI DI RUMAH
Ada beberapa teknik yang biasanya digunakan terapis wicara untuk membantu anak yang kesulitan bicara. Teknik-teknik tersebut juga bisa dilakukan orangtua di rumah untuk menyempurnakan perkembangan otot bicara anak. Berikut caranya:
* Meniup balon sampai besar, atau membuat gelembung balon dari air sabun.
* Meniup gumpalan tisu dari ujung meja satu ke ujung meja lainnya.
* Meniup lilin.
* Main seruling/terompet.
* Minum dengan sedotan kecil, atau sedotan yang berkelok- kelok.
* Berteriak dengan mulut terbuka lebar mengucapkan, “a e i o u”
Penulis : Uttiek
Sumber : Tabloid Nakita
Disfasia
Disfasia

Definisi : Terdapat kelainan pada fase perkembangan bahasa dan bicara, dimana kemampuan produksi bicara mengalami kelambatan dibandingkan dengan kemampuan pemahaman.

Disfasia terjadi karena adanya gangguan pada proses transisi dari observasi obyek, perasaan, pikiran, pengalaman atau ide terhadap kata yang diucapkan. Disfasia dapat terjadi sejak dalam kandungan, dimana yang lebih terganggu adalah bahasa ekspresif, sehingga anak lebih mengerti apa yang dikatakan kepadanya dari pada yang akan diucapkannya. Gangguan bicara dapat sekunder karena gangguan pendengaran, retardasi mental, gangguan psikiatri dan lingkungan yang tidak menunjang.

Perkembangan bicara-bahasa bervariasi pada masing-masing individu karena dipengaruhi oleh banyak faktor misalnya genetik, jenis kelamin (banyak pada anak laki-laki), kerusakan otak saat pranatal dan perinatal. Penyimpangan biasanya pada otak bagian kiri tetapi ada beberapa pada otak kanan, korpus kalosum atau lintasan pendengaran.

Disfasia merupakan kelainan penting yang sering menjadi basis dari gangguan lain seperti disleksia, disgrafia, dan diskalkulia, juga dapat muncul bersama dengan dispraksia dan Gangguan Pemusatan Pikiran (GPP).
sumber:
http://www.kesimpulan.com/2009/04/kesulitan-belajar.html
Selasa, 26 April 2011

UUD BERPACARAN
UNDANG UNDANG DALAM BERPACARAN
KAMI YANG BERTANDA TANGAN DI BAWAH INI,
HENGKY PRASETYO DAN ZITA RIGA AGUSTINA MENYATAKAN:
PASAL 1
TIDAK SALING MEMANCING EMOSI
PASAL 2
HARAM BILANG ‘PUTUS’SEBERAT BERAT APAPUN HARUS MENAHAN UNTUK TIDAK BILANG PUTUS,DAN MENYELESAIKAN MASALAH SEBERAT BERAT APAPUN DENGAN SEBAIK BAIKNYA
PASAL 3
JANGAN PERNAH JAIM BILANG’MAAF’ DAN JANGAN JAIM BUAT MEMAAFKAN
PASAL 4
SERING SERING BILANG ‘LOVE U’,’MISS U’,’NEED U’,AKU SAYANG KAMU
PASAL 5
KALO ADA SESUATU YANG TIDAK SREG HARUS LANGSUNG DIBICARAKAN DAN DISELESAIKAN
PASAL 6
SALING MENASEHATI,PERCAYA ,JUJUR DAN TERBUKA DALAM KEBAIKAN BERSAMA
PASAL 7
TIDAK BOLEH BOSEN
PASAL TAMBAHAN:
1.SALING MENGINGATKAN UNTUK MENJAGA HATI,PIKIRAN DAN PERBUATAN
2.INGAT!!!PERKATAAN ADALAH DOA,TIDAK BOLEH SEMBARANGAN DALAM BERCANDA..
3.SEMANGAT 3 TAHUN LAGI LHOOO...AMIN YA ROBB
SEMARANG,22 FEBRUARI 2011
YANG BERJANJI,
HENGKY PRASETYO
&
ZITA RIGA AGUSTINA
Rabu, 03 Desember 2008

uupzzztttbesokudahujyanbuuukkk.
mana hare gene tetep masuk skula..pelajaran pula...
ohohohohohoho...
di sebuah kelas iang notabene penuh dengan ceue ceue cantikkk...

dgn puedenya dy teriak2..""""sejarah2....kimia2....biologi2...matematika2......""""

hahahahahaha..
nagih utang tugas skula yang ded len nya tu hari ni...
]huhuhuhuhuh...
gg tauw de bsokk nasebQ kaia gmn..
DOA NYA NGGEH>>>>
Selasa, 25 November 2008

huhuhuhuhuhuh....ulangan ulangan ulangan....
welcome remidossss....
oh mi god oh mi god...
sampek mblenger ulangan...
ck..ck..ck...
memang ulangan yang tak berperikeulangan..berperikesoalan..dan berperi kemuridan...
hahahahahahhahahahaha...
hiks hiks...
wish me luck yo....