
Gangguan Perkembangan Bahasa pada Anak
Rabu, 9 Desember 2009 | 13:31 WIB
shutterstock
KOMPAS.com - Gangguan bicara dan bahasa adalah salah satu penyebab terhambatnya tumbuh-kembang anak yang sering ditemui. Adapun gangguan yang sering dikeluhkan orangtua yaitu keterlambatan bicara. Gangguan ini tampaknya semakin hari dilaporkan meningkat.
Beberapa laporan menyebutkan angka kejadian gangguan bicara dan bahasa berkisar 5-10 persen pada anak sekolah. Anak dikatakan mengalami keterlambatan bicara dan harus berkonsultasi dengan ahli, bila sampai usia 12 bulan sama sekali belum mengeluarkan ocehan atau babbling, sampai usia 18 bulan belum keluar kata pertama yang cukup jelas, padahal sudah dirangsang dengan berbagai cara, terlihat kesulitan mengatakan beberapa kata konsonan, seperti tidak memahami kata-kata yang kita ucapkan, serta terlihat berusaha sangat keras untuk mengatakan sesuatu, misalnya sampai ngiler atau raut muka berubah.
Penyebab keterlambatan bicara sangat luas dan banyak. Ada yang ringan sampai yang berat, mulai yang bisa membaik hingga yang sulit dikoreksi. Yang pasti, semakin dini mendeteksi keterlambatan bicara, maka semakin baik kemungkinan pemulihan gangguan tersebut.
Ada beberapa gangguan yang perlu diperhatikan orangtua:
1. Disfasia
Gangguan perkembangan bahasa yang tidak sesuai dengan perkembangan kemampuan anak seharusnya. Ditengarai gangguan ini muncul karena adanya ketidaknormalan pada pusat bicara yang ada di otak. Anak dengan gangguan ini pada usia setahun belum bisa mengucapkan kata spontan yang bermakna, misalnya mama atau papa.
Kemampuan bicara reseptif (menangkap pembicaraan orang lain) sudah baik tapi kemampuan bicara ekspresif (menyampaikan suatu maksud) mengalami keterlambatan. Karena organ bicara sama dengan organ makan, maka biasanya anak ini mempunyai masalah dengan makan atau menyedot susu dari botol.
2. Gangguan disintegratif pada kanak-kanak (Childhood Diintegrative Disorder/CDD)
Pada usia 1-2 tahun, anak tumbuh dan berkembang dengan normal, kemudian kehilangan kemampuan yang telah dikuasainya dengan baik. Anak berkembang normal pada usia 2 tahun pertama seperti kemampuan komunikasi, sosial, bermain dan perilaku. Namun kemampuan itu terganggu sebelum usia 10 tahun, yang terganggu di antaranya adalah kemampuan bahasa, sosial, dan motorik.
3. Sindrom Asperger
Gejala khas yang timbul adalah gangguan interaksi sosial ditambah gejala keterbatasan dan pengulangan perilaku, ketertarikan, dan aktivitas. Anak dengan gangguan ini mempunyai gangguan kualitatif dalam interaksi sosial. Ditandai dengan gangguan penggunaan beberapa komunikasi nonverval (mata, pandangan, ekspresi wajah, sikap badan), tidak bisa bermain dengan anak sebaya, kurang menguasai hubungan sosial dan emosional.
4. Gangguan multisystem development disorder (MSDD)
MSDD digambarkan dengan ciri-ciri mengalami problem komunikasi, sosial, dan proses sensoris (proses penerimaan rangsang indrawi). Ciri-cirinya yang jelas adalah reaksi abnormal, bisa kurang sensitif atau hipersensitif terhadap suara, aroma, tekstur, gerakan, suhu, dan sensasi indra lainnya. Sulit berpartisipasi dalam kegiatan dengan baik, tetapi bukan karena tertarik, minat berkomunikasi dan interaksi tetap normal tetapi tidak bereaksi secara optimal dalam interaksinya. Ada masalah yang terkait dengan keteraturan tidur, selera makan, dan aktivitas rutin lainnya.
http://kesehatan.kompas.com/read/2009/12/09/13312448/gangguan.perkembangan.bahasa.pada.anak
DISFASIA
Posted by: yuwielueninet on: April 28, 2008
• In: anak | artikel
• Comment!
DISFASIA
Disfasia adalah gangguan perkembangan bahasa yang tidak sesuai dengan perkembangan kemampuan anak seharusnya.
> Penyebab:Adanya gangguan di pusat bicara yang ada di otak.
>Ciri-ciri:• Usia 1 tahun belum bisa mengucapkan kata spontan yang bermakna, seperti mama, papa.• Kemampuan bicara reseptif (menangkap pembicaraan orang lain) sudah baik tapi kemampuanbiacara ekspresif (menyampaikan suatu maksud) mengalami keterlambatan.• Karena organ bicara sama dengan organ untuk makan, maka biasanya anak ini mempunyai masalah dengan makan atau menyedot susu dari botol.
>Jenis:• Murni disfasia.Murni disfasia adalah seperti penjelasan di atas.• Disfasia sebagai gejala awal gangguan lain.
Gangguan perkembangan bahasa sebagai gejala awal, contohnya seperti yang terjadi pada anak autis. Untuk mengatasinya, gangguan utamanya dulu yang diselesaikan, baru kemudian dilakukan terapi seperti anak yang murni disfasia.
Cara penanganan:
- Dokter anak akan memberikan obat untuk membantu memperbaiki sel-sel yang rusak di pusat bicara.
- Bersamaan dengan itu akan dilihat fungsi organ bicaranya, apakah juga ada gangguan atau tidak.
- Terapi wicara akan dilakukan dengan cara latihan otot bicara, seperti latihan meniup, menyedot, menggerakkan lidah ke kiri dan ke kanan, dan sebagainya. Kemudian anak diminta untuk menirukan bunyi, kata, baru kemudian kalimat.
TERAPI SENDIRI DI RUMAH
Ada beberapa teknik yang biasanya digunakan terapis wicara untuk membantu anak yang kesulitan bicara. Teknik-teknik tersebut juga bisa dilakukan orangtua di rumah untuk menyempurnakan perkembangan otot bicara anak. Berikut caranya:
* Meniup balon sampai besar, atau membuat gelembung balon dari air sabun.
* Meniup gumpalan tisu dari ujung meja satu ke ujung meja lainnya.
* Meniup lilin.
* Main seruling/terompet.
* Minum dengan sedotan kecil, atau sedotan yang berkelok- kelok.
* Berteriak dengan mulut terbuka lebar mengucapkan, “a e i o u”
Penulis : Uttiek
Sumber : Tabloid Nakita
Disfasia
Disfasia
Definisi : Terdapat kelainan pada fase perkembangan bahasa dan bicara, dimana kemampuan produksi bicara mengalami kelambatan dibandingkan dengan kemampuan pemahaman.
Disfasia terjadi karena adanya gangguan pada proses transisi dari observasi obyek, perasaan, pikiran, pengalaman atau ide terhadap kata yang diucapkan. Disfasia dapat terjadi sejak dalam kandungan, dimana yang lebih terganggu adalah bahasa ekspresif, sehingga anak lebih mengerti apa yang dikatakan kepadanya dari pada yang akan diucapkannya. Gangguan bicara dapat sekunder karena gangguan pendengaran, retardasi mental, gangguan psikiatri dan lingkungan yang tidak menunjang.
Perkembangan bicara-bahasa bervariasi pada masing-masing individu karena dipengaruhi oleh banyak faktor misalnya genetik, jenis kelamin (banyak pada anak laki-laki), kerusakan otak saat pranatal dan perinatal. Penyimpangan biasanya pada otak bagian kiri tetapi ada beberapa pada otak kanan, korpus kalosum atau lintasan pendengaran.
Disfasia merupakan kelainan penting yang sering menjadi basis dari gangguan lain seperti disleksia, disgrafia, dan diskalkulia, juga dapat muncul bersama dengan dispraksia dan Gangguan Pemusatan Pikiran (GPP).
sumber:
http://www.kesimpulan.com/2009/04/kesulitan-belajar.html
